Berita dan informasi wisata puncak
Outdoor Education

PUNCAK MEGAMENDUNG, HIGHLAND OUTBOUND - Sejarah Outdoor Education
Sejarah tidak menjelaskan tepatnya kapan dan di mana Outdoor Education dimulai, hal tersebut diungkapkan oleh Neill (2007:Th) “It is unclear where exactly the true beginnings of outdoor education lie.” Di era modern, Outdoor Education muncul pada abad 19 hingga abad 20 berupa kegiatan camp sekolah. Dari sejak itu, program sejenis kegiatan pramuka tersebut terus diperbaharui dan disesuaikan dengan prinsip dan keterampilan latihan kemiliteran dan pendidikan sipil. 
 
Menurut Neill (2007:Th), Outward Bound pertama kali muncul di Colorado Amerika pada Tahun 1961 dengan menciptakan dua organisasi Project Adventure Tahun 1971 dan National Outdoor Leadership School (NOLS) pada Tahun 1974. Gabungan dari Outward Bound, Project Adventure dan NOLS menjadi tiga besar Outdoor Education di Amerika utara sampai sekarang dan menjadi cikal bakal perluasannya di seluruh dunia. Di tahun 1970-an dan 1980-an, program dasar adventure mulai terfokus dan lebih dikhususkan. Pada Tahun 1980-an ikatan adventure training mulai ramai dibentuk, kemudian pada Tahun 1990, Adventure program lebih mendalam dan terarah dengan munculnya akademi dan program paska sarjana di beberapa Universitas, seperti di Amerika, Inggris, Australia dan Eropa. Di Tahun 1990-an meningkatnya Adventure travel dan eco-tourism serta program perkembangan community. Selama Tahun 1980-an dan 1990-an program Outdoor Education berkembang di beberapa universitas.  Pada tahun 2000-an yang merupakan era internet, telah membawa perkembangan baru untuk menggali sumber¬sumber di bidang outdoor education.

Filsafat Outdoor Education
Menurut Neill (2006 d), beberapa peneliti mengambil falsafah Outdoor Education berdasarkan doktrin dari Comenius, Rousseau, dan Pestalozzi, intinya adalah sebagai berikut di bawah ini:
 
John Amos Comenius (1592-1670) was a strong advocate of sensory learning who believed that the child should experience the actual object of study before reading about it.  He thought the use of the sense -seeing, hearing, tasting, and touching -were the avenues through which children were to come in contact with the natural world. In preparation for the later study of natural sciences, children should first gain acquaintance with objects such as water, earth, fire, rain, plants, and rocks.
 
Comenius percaya bahwa anak-anak seharusnya belajar dari pengalaman hidup mereka  langsung melalui lingkungan alam, sehingga mereka memilki perasaan, pandangan,  pendengaran, citra rasa dan sentuhan yang langsung ke objek nyata, seperti air, tanah, api, hujan,  tumbuhan, bebatuan dan sebagainya.

Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) carried out the ideas of Comenius by educating the boy, Emile, according to principles found in nature.  He believed that physical activity was very important in the education of a child.  They are curious, he claimed, and this curiosity should be ultilized to the fullest.  Rousseau preached that education should be more sensory and rational; less literary and linguistic. Rather than learning indirectly from books, children should learn through direct experience. He proclaimed, “Our first teachers are our feet, our hands and our eyes.  To substitute books for all these...is but to teach us to use the reasons of others.”

Rousseau menekankan bahwa aktivitas fisik sangat penting di dalam pendidikan anak-anak.  Untuk memenuhi keingintahuan dan tuntutan mereka seharusnya pendidikan lebih ditekankan  kepada pengalaman yang berhubungan dengan alat pancaindera dan rasional daripada bahasa dan  kesusasteraan atau buku-buku pelajaran. Rousseau menyatakan bahwa guru pertama kita adalah  kaki kita, tangan kita dan mata kita.

Johann Henrick Pestalozzi (1746-1827) emphasized the use of direct, firsthand experiences and real objects, also. Pestalozzi, a follower of Rousseau, urged teachers to take their pupils out of the classroom: Lead your child out into nature, teach him on the hilltops and in the valleys. There he will listen better, and the sense of freedom will given him more strength to overcome difficulties.  But in these hours of freedom let him be taught by nature rather than by you. Let him fully realize that she is the real teacher and that you, with your art, do nothing more than walk quietly at her side.
Demikian halnya dengan Pestalozzi, Pengalaman langsung dengan obyek nyata merupakan pelajaran permulaan bagi anak-anak. Para guru harus membawa mereka ke luar dari ruangan kelas, ke perbukitan dan lembah-lembah. Para guru harus membiarkan alam yang mendidik mereka lebih daripada kata-katanya. Pengalaman yang penting ini, merupakan persiapan dasar pengetahuan yang lebih lanjut dan mempersiapkan mental mereka untuk menghadapi berbagai kesulitan di kemudian hari. Menurut White dalam terjemahan Pasuhuk; dkk. (2005:88) “Bagi anak kecil, yang belum sanggup untuk belajar dari halaman yang tertulis atau belum diperkenalkan dengan acara tetap di dalam ruang kelas, alam memberikan sumber pengajaran dan kegembiraan yang tidak akan gagal.” Selanjutnya dikatakan White (2005:100), “Hubungan tetap dengan rahasia kehidupan dan keindahan alam, . . .cenderung untuk menguatkan pikiran dan menghaluskan serta mengangkat tabiat.” Pada bagian lain dikatakan White (2005:96), “Semakin tenang dan sederhana kehidupan seorang anak-semakin bebas dari kemeriahan semu dan semakin berada dalam keharmonisan dengan alam semakin menguntungkan untuk kesegaran fisik dan mental serta kekuatan rohani.”

Experiential Education
Jung, dalam Purdie & Neill (1999) menyatakan bahwa, ”What's more, there seems to be an innate calling to adventure in the human.” di dalam diri manusia ada suatu panggilan pembawaan lahir untuk berpetualang, Jung memberi alasan bahwa, Man needs difficulties; they are necessary for health. What's more, there seems to be an innate calling to adventure in the human to keep the survival instinct sharp and strong. The difficulties inherent in surviving in nature are perfect for the shaping of human behavior and nature's deeper effect on the psyche has been critical in guiding humans through the past challenges and, undoubtedly, the future challenge of sustainable human living on earth. Maksudnya, kesulitan-kesulitan yang inheren dalam mengatasi keadaan di dalam alam itu sempurna selain untuk kesehatan, adalah untuk pembentukan perilaku manusia dan pengaruh alam yang lebih mendalam pada jiwa dalam membimbing manusia melalui tantangan masa lalu dan, tidak usah diragukan lagi, tantangan di masa mendatang dari kehidupan yang dapat ditopang dari manusia di bumi.

Berdasarkan Neill (2004 a:Th), pendidikan di alam bebas, sebagai suatu respon yang masuk akal terhadap pengalaman langsung dengan kehidupan berdasarkan alam. Karena industrialisasi menciptakan kekayaan materi dan manusia sebagian besar sudah kehilangan keterampilan-keterampilan hidup kultural yang sederhana. Sebagian besar dari mereka cenderung takut kembali lagi ke alam, sehingga mereka merasa perlu untuk membawa sejumlah perlengkapan yang berlebihan, misalnya, tenda, peralatan masak, perbekalan, dsbnya. Dalam pengertian sosio-kultural, program pendidikan di alam bebas adalah gejala dari masyarakat pasca industrialisasi yang menderita karena lingkungan alami sudah lama diputus dan dilembagakan.  Melalui prasarana pendidikan di alam bebas, sekarang manusia bisa kembali memiliki peluang untuk dapat dibimbing dalam penyesuaian diri menyongsong masa depan. Meskipun manusia seharusnya yang mengadakan penyesuaian, tetapi hanya alam yang bisa mengajarkan bagaimana manusia dapat menyesuaikan diri.

Bagi banyak pendidik petualangan di alam bebas, area-area alami biasanya dihadirkan sebagai tempat-tempat pembelajaran yang ideal yang menantang para peserta secara fisik, secara mental, secara emosional dan secara sosial. Tempat-tempat ini telah diidealkan sebagai daerah¬daerah pendidikan di mana kemampuan fisik, mental, emosional, dan spiritual semua dilibatkan.  Miles (1990) dalam Wattchow (Tt) berargumentasi bahwa, “wilderness educators, must teach responsibly for nature and wild land values must help their clients learn the special lessons about  nature and human nature which may be revealed in wild places, lessons which may help them back home to do their part to assure sustainability of nature and civilization.” Artinya, para pendidik hutan belantara harus mengajar secara bertanggung-jawab untuk memahami nilai alam dan wilayah liar, harus membantu klien mereka mempelajari pelajaran-pelajaran khusus mengenai alam dan sifat manusia yang bisa terungkap di tempat-tempat yang liar, pelajaran¬pelajaran yang kemungkinan membantu mereka nanti di rumah untuk melakukan peran mereka supaya menjamin adanya dukungan dari alam dan masyarakat.

Program-program pendidikan di alam bebas harus berdasar teori belajar yang kokoh, juga harus mempunyai rencana belajar berdasarkan garis-garis penuntun yang telah terbukti ampuh.  Program-program ini bukan hanya sekadar membiarkan para siswa mendapat pelarian dari ruang kelas berdinding empat, ke dunia nyata. Para pelaku harus mengetahui alasan-alasan untuk mengajar pokok pelajaran di dalam latar alam bebas, maupun bagaimana mengajar di alam terbuka. Terutama karena alam bebas tidaklah secara spesifik dirancang untuk kenyamanan, dibanding latar ruang kelas tradisional. Maka perlu sekali bahwa, para pendidik di alam bebas mempunyai pengertian yang kuat mengenai apa yang mereka sedang lakukan dan mengapa.  ”Without a learning theory as a guide, the educator may end up doing nothing more than exposing students to the real world in hopes that the process takes place” (Bunyan,1994 dalam Taniguchi, 2004:46 ).

Gager (1982) dalam Taniguchi (2004:49) mengemukakan bahwa, “experiential education differs from other learning approaches in that a student is given the opportunity to carry out an action and see the effects of that action from which he can then generate his own concepts and applications.” Artinya, pendidikan experiental berbeda dari pendekatan ajaran lainnya, karena seorang siswa diberi peluang untuk melakukan suatu tindakan dan melihat dampak dari tindakan

tersebut dimana ia kemudian bisa membangkitkan konsep-konsep dan aplikasi-aplikasinya sendiri. Fokus dari program-program di alam bebas harus berada pada si siswa yang melakukan tindakan-tindakan di dalam lingkungan nyata, dimana kebutuhan untuk membuat keputusan dan memikul tanggung-jawab mempunyai akibat dan konsekwensinya. Sebagaimana diusulkan Dewey (1938), sebuah komponen penting bagi pengalaman edukatif adalah tahap akhir, perenungan kritis. Tetapi, banyak program pendidikan di alam bebas tidak mampu melihat pentingnya tahap terakhir ini, bahkan sama sekali tidak menyisakan apa-apa untuk tahap terakhir ini. Menurut (Bunyan, 1994 dalam dalam Taniguchi, 2004:49) masalah ini disebabkan oleh ”inability of facilitators to use this time for reflection effectively.” Terlalu banyak program pendidikan di alam bebas datang dan pergi karena pendekatan mereka adalah mengekspos para siswa mereka kepada pengalaman-pengalaman di dunia luar, dengan harapan bahwa proses belajar akan terjadi. Dari hasil riset Taniguchi (2004) telah memperlihatkan bahwa jika potensi pendidikan experiental untuk memberi sumbangan pada perkembangan perorangan akan direalisasikan, maka tahap-tahap yang digambarkan Gager (1976) harus dimasukkan ke dalam program.

Menurut Andrews (1999) dalam Taniguchi (2004:51), ”Outdoor education programs can be one of the most intensive forms of experiential education because of underlying processes that occur in the wilderness setting which can render meaningful experiences.” Artinya, program-program pendidikan di alam bebas bisa merupakan salah satu dari bentuk intensif dari pendidikan experiental karena proses-proses mendasar yang terjadi di dalam latar alam liar yang bisa memberi pengalaman-pengalaman berarti. Andrews (1999) memasukkan konsep kultural dari even penting yang menandai lintasan dari satu tahap ke tahap lain dalam kehidupan yang pertama kali dianjurkan oleh antropolog Arnold van Gennep di tahun 1909. Menurut Gennep (1960, 1909) dalam Taniguchi (2004:51) Dari sudut pandang kultural, beberapa pengalaman di dalam suatu lingkungan masyarakat yang luas bisa memberi dampak berarti pada seseorang. Dampak-dampak berarti ini bisa menghasilkan suatu transisi dari satu tahap emosional kehidupan ke tahap lain. Lintasan dari satu tahap ke tahap lain dalam kehidupan ini adalah satu fenomena universil yang terbagi dalam tiga fase umum: ”separation”, di mana seseorang dipisahkan dari struktur kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat; ”transition”, fase di mana seseorang kemudian melalui sebuah pengalaman yang intens yang mempunyai norma-norma dan ciri-ciri yang berbeda dari kehidupan sehari-hari dalam masyarakat; dan ”aggregation”, fase terakhir melalui mana orang itu masuk kembali ke dalam kehidupan masyarakat luas dari mana ia berasal, tetapi dengan struktur pikiran yang berbeda.(CP)